Penulis: Redaksi TVRINews
TVRINews – Sragen
Dari Pabrik Kerupuk Kembali ke Kelas: Menjemput Martabat Lewat Sekolah Rakyat
Di balik dinding bambu dan lantai tanah sebuah rumah sederhana di Jawa Tengah, Punijah, seorang buruh tani berusia 45 tahun, selama ini memikul beban yang nyaris melampaui batas kemampuannya.
Namun hari ini, air matanya bukan lagi tentang keputusasaan, melainkan tentang martabat yang kembali melalui pendidikan.
Kehidupan Punijah adalah potret ketangguhan di tengah krisis. Sebagai tulang punggung tunggal, ia harus menghidupi keluarga dengan upah harian sebesar Rp20.000 hingga Rp30.000, sementara suaminya berjuang melawan depresi berat.
Kondisi ekonomi yang mencekik sempat memaksa putra sulungnya, Ahmad Lutfi, menanggalkan seragam sekolah demi bekerja di pabrik kerupuk.
"Dulu anak saya sudah memohon, 'Mak, aku ingin sekolah lagi', tapi saya benar-benar tidak mampu," kenang Punijah dalam rilis resmi yang diterima dari Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Minggu 19 April 2026.
Titik balik bagi keluarga ini datang ketika Ahmad Lutfi diterima di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 78 Sragen.
Institusi ini merupakan inisiatif pemerintah yang menanggung seluruh biaya hidup siswa, mulai dari kebutuhan pokok hingga perlengkapan belajar.
Restorasi Pendidikan dan Ekonomi
Bagi keluarga yang hidup dalam keterbatasan, pendidikan seringkali menjadi kemewahan yang tak terjangkau.
Kehadiran Sekolah Rakyat tidak hanya mengembalikan Lutfi ke ruang kelas, tetapi juga memberikan napas baru bagi kesehatan mental dan stabilitas ekonomi keluarga mereka.
Selain dukungan pendidikan, intervensi sosial juga datang dari Kementerian Sosial berupa pemberian dua ekor kambing sebagai modal usaha mandiri.
Bagi Punijah, ini adalah instrumen krusial untuk memutus rantai kemiskinan sistemik yang selama ini membelenggu mereka.
Suara Hati Seorang Ibu
Dalam wawancara tersebut, Punijah mengungkapkan rasa bangganya dengan emosi yang mendalam. Ia melihat kesempatan ini sebagai jawaban atas doa-doa panjang di tengah kesunyian ladang tempatnya bekerja.
"Saya sangat bangga, benar-benar bangga. Berkat Sekolah Rakyat, anak saya bisa bangkit kembali dan merasa bahagia lagi," tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Kisah Punijah dan Lutfi kini menjadi simbol bagi ribuan keluarga prasejahtera di Indonesia tentang bagaimana akses pendidikan gratis yang tepat sasaran dapat mengembalikan impian yang sempat padam.
Harapannya sederhana namun fundamental: melihat putranya tumbuh menjadi sosok yang sukses dan memiliki masa depan yang lebih bermartabat dibanding masa lalunya.
Editor: Redaktur TVRINews
