
Dok. Kemenag RI
Penulis: Rifiana Seldha
TVRINews, Jakarta
Pemerintah, melalui Kementerian Agama RI dan Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Manusia, meluncurkan gerakan kolaboratif bertajuk “Indonesia Berdaya – Joyful Ramadhan”. Program ini menargetkan 9.450 mustahik pada kategori Desil 1 hingga Desil 3 yang telah terdata dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).
Peluncuran gerakan dilakukan di Masjid Istiqlal, Kamis, 12 Februari 2026. Kegiatan ini menandai penguatan sinergi antar-kementerian dalam pengelolaan zakat berbasis data yang tepat sasaran.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Abu Rokhmad, menjelaskan bahwa integrasi data melalui DTKS menjadi fondasi utama agar penyaluran zakat, infak, dan sedekah lebih akurat, terukur, dan berkelanjutan.
“Dengan pemadanan 9.450 mustahik pada Desil 1–3 yang terhubung dengan DTKS, kita memastikan bantuan benar-benar menjangkau kelompok yang paling membutuhkan secara presisi,” ujar Abu Rokhmad di Jakarta, Jumat (13/2/2026).
Abu Rokhmad menambahkan, Desil 1 merupakan kelompok kemiskinan ekstrem yang membutuhkan intervensi cepat dan komprehensif, sedangkan Desil 2 dan 3 difokuskan pada penguatan kapasitas ekonomi agar mereka memiliki daya tahan dan tidak kembali jatuh dalam kerentanan.
Selain itu, integrasi melalui Data Terpusat Penerima Manfaat Terintegrasi (DTSEN) bertujuan mencegah tumpang tindih bantuan dan memperkuat akuntabilitas publik. Sistem ini memungkinkan lembaga zakat memetakan kebutuhan mustahik secara rinci dan menyiapkan intervensi sesuai tingkat kerentanan.
“Zakat harus menjadi instrumen transformasi sosial. Tidak berhenti pada bantuan konsumtif, tetapi diarahkan pada pemberdayaan produktif yang berkelanjutan,” tegas Abu Rokhmad.
Dalam tahap awal, delapan Lembaga Amil Zakat telah mengintegrasikan data mereka ke sistem informasi zakat terpadu. Ke depan, integrasi akan diperluas untuk membangun ekosistem zakat nasional yang sehat dan terkoneksi dengan basis data pemerintah.
Peluncuran “Indonesia Berdaya” juga diiringi aksi nyata berupa pembagian 10.000 paket takjil dan 1.000 bingkisan pendidikan untuk anak yatim, menyasar delapan provinsi prioritas dengan tingkat kemiskinan ekstrem. Penyaluran dilakukan berbasis data desil agar dampak program dapat diukur secara akurat.
Acara ini turut dihadiri Menko PM Muhaimin Iskandar secara virtual. Ia menekankan pentingnya pemberdayaan masyarakat agar pertumbuhan ekonomi dirasakan langsung oleh warga.
“Kita ingin masyarakat tidak hanya menjadi penonton pembangunan, tetapi menjadi aktor utama yang berdaya dan mandiri,” ujar Cak Imin.
“Kementerian, lembaga, dan mitra filantropi bergerak bersama melalui Indonesia Berdaya. Dengan sinergi yang kuat, upaya pengentasan kemiskinan dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Editor: Redaksi TVRINews
