
Dok. TVRINews/Nisa Alfiani
Penulis: Nisa Alfiani
TVRINews, Mamasa
Di balik hamparan perbukitan hijau yang menyelimuti Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, berdiri tegak bangunan khas berbentuk rumah adat dengan atap melengkung menyerupai perahu.
Bangunan ini dikenal sebagai Banua Patane rumah pemakaman tradisional masyarakat Mamasa yang menjadi simbol penghormatan tinggi kepada leluhur.
Berbeda dengan makam pada umumnya, Banua Patane bukan sekadar tempat menyimpan jenazah. Ia merupakan bagian dari warisan budaya yang sarat nilai spiritual, sosial, dan historis.
Biasanya, Banua Patane dibangun oleh keluarga besar untuk menyemayamkan anggota keluarga yang telah wafat, khususnya mereka yang berasal dari garis keturunan bangsawan atau tokoh adat.
“Banua Patane adalah rumah terakhir yang membawa nama dan martabat keluarga. Di sinilah kita menghormati leluhur, menyambung hubungan antara dunia yang kelihatan dan yang tak kelihatan,” ujar Petrus, salah satu tokoh adat Mamasa.
Secara arsitektur, bangunan ini hampir serupa dengan Banua rumah adat Mamasa dengan atap melengkung dan dihiasi ornamen ukiran khas. Namun, fungsinya berbeda. Jika Banua digunakan sebagai tempat tinggal, maka Banua Patane diperuntukkan secara khusus sebagai makam keluarga.
Pendirian Banua Patane selalu disertai dengan upacara adat yang khidmat. Prosesi pemakaman bisa berlangsung selama beberapa hari dan dihadiri oleh ratusan anggota keluarga serta warga kampung.
Ritual kematian seperti Rambu Solo’ atau Aluk Mate masih dijalankan hingga kini sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada mereka yang telah berpulang.
Di tengah arus modernisasi dan perubahan gaya hidup, masyarakat Mamasa tetap teguh menjaga eksistensi Banua Patane. Ia tidak hanya menjadi tempat diamnya tubuh, tetapi juga ruang hidupnya kenangan, sejarah, dan penghargaan terhadap nilai-nilai luhur yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Baca Juga: Panglima TNI Ucapkan Selamat HUT ke-79 Bhayangkara, Tekankan Pentingnya Sinergi TNI-Polri
Editor: Redaktur TVRINews
